full version STRUKTUR MODAL Essay

STRUKTUR MODAL

Category: Business

Autor: mcden 08 May 2010

Words: 3901 | Pages: 16







PENDAHULUAN




STRUKTUR MODAL


Modal (pembelanjaan dari luar perusahaan) dikelompokkan dalam dua jenis,
yakni: hutang dan ekuitas (= modal sendiri). Hutang mempunyai keunggulan berupa
(Brigham and Gapenski, 1997: 767-768): 1) bunga mengurangi pajak sehingga biaya
hutang rendah, 2) kreditur memperoleh return terbatas sehingga pemegang saham
tidak perlu berbagi keuntungan ketika kondisi bisnis sedang maju, 3) kreditur tidak
memiliki hak suara sehingga pemegang saham dapat mengendalikan perusahaan
dengan penyertaan dana yang kecil. Meskipun demikian, hutang juga mempunyai
kelemahan, yaitu: 1) hutang biasanya berjangka waktu tertentu untuk dilunasi tepat
waktu, 2) rasio hutang yang tinggi akan meningkatkan risiko yang selanjutnya akan
meningkatkan biaya modal, 3) bila perusahaan dalam kondisi sulit dan labanya tidak
dapat memenuhi beban bunga maka tidak tertutup kemungkinan dilakukan tindakan
likuidasi.
Bauran hutang dan ekuitas untuk pendanaan perusahaan merupakan bahasan
utama dari keputusan struktur modal (= capital structure decision). Bauran modal
yang efisien dapat menekan biaya modal (= cost of capital), yang dapat
meningkatkan kembalian ekonomi neto dan meningkatkan nilai perusahaan.
Perusahaan yang hanya menggunakan ekuitas disebut "unlevered firm", sedangkan
yang menggunakan bauran ekuitas dan berbagai macam hutang disebut "levered
firm".


Neraca Unlevered Firm


Neraca Levered Firm


Hutang
40


Aktiva
100


Ekuitas
100


Aktiva
100




Ekuitas
60




Gambar 1: CONTOH NERACA UNLEVERED FIRM dan LEVERED FIRM



1


2


Pemilihan alternatif penambahan modal yang berasal dari kreditur (hutang)
pada umumnya didasarkan pada pertimbangan: murah. Dikatakan murah, karena
biaya bunga yang harus ditanggung lebih kecil dari laba yang diperoleh dari
pemanfaatan hutang tersebut. Sesuai dengan EBIT-EPS Analysis (Gitman, 1994:
465-468); bila biaya bunga hutang murah, perusahaan akan lebih beruntung
menggunakan sumber modal berupa hutang yang lebih banyak, karena
menghasilkan laba per saham yang makin banyak. Sebagai gambaran mengenai
EBIT-EPS Analysis dapat dilihat pada Gambar 2 berikut.





















Gambar 2: CONTOH EBIT-EPS ANALYSIS


Contoh tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan hutang yang makin
banyak, yang dicerminkan oleh debt ratio (rasio antara hutang dengan total aktiva)
yang makin besar, pada perolehan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) yang sama
akan menghasilkan laba per saham (EPS) yang lebih besar. Gambaran semacam ini
yang banyak diacu oleh perusahaan-perusahaan dalam memenuhi kebutuhan
modalnya.





TEORI-TEORI STRUKTUR MODAL

3


Kecenderungan perusahaan yang makin banyak menggunakan hutang, tanpa
disadari secara berangsur-angsur, akan menimbulkan kewajiban yang makin berat
bagi perusahaan saat harus melunasi (membayar kembali) hutang tersebut. Tidak
jarang perusahaan-perusahaan yang akhirnya tidak mampu memenuhi kewajiban
tersebut, dan bahkan dinyatakan pailit. Hingga kini belum ada rumus matematik
yang tepat untuk menentukan jumlah optimal dari hutang dan ekuitas dalam struktur
modal (Seitz,1984: 301). Pedoman umum hanyalah: mencari hutang sebanyak
mungkin tanpa meningkatkan risiko atau menurunkan fleksibilitas perusahaan.
Franco Modigliani dan Merton Miller adalah bapak dari teori struktur modal
(Groth and Anderson, 1997). Pada tahun 1958, dalam American Economic Review
48 (1958, June) yang berjudul The Cost of Capital, Corporate Finance, and the
Theory of Investment, mereka mengemukakan teori struktur modal dengan berbagai
asumsi yang tidak mungkin terjadi, akan tetapi sangat membantu dalam memahami
bagaimana perusahaan menentukan bauran pendanaan yang berasal dari hutang dan
ekuitas secara benar (Siaw, 1999). Asumsi-asumsi yang mendasari adalah
(Megginson, 1997:316):
a. Semua aktiva berujud dimiliki oleh perusahaan.
b. Pasar modal sempurna (tidak ada pajak, tidak ada biaya transaksi, dan tidak ada
biaya kebangkrutan).
c. Perusahaan hanya dapat menerbitkan dua macam sekuritas, yakni ekuitas yang
berisiko dan hutang bebas (tanpa) risiko.
d. Individu maupun perusahaan dapat meminjam atau meminjamkan uang dengan
tingkat suku bunga bebas risiko.
e. Para investor mempunyai ekspektasi yang sama (homogen) terhadap keuntungan
perusahaan di masa mendatang.
f. Semua perusahaan tidak mengalami pertumbuhan (arus kas diasumsikan konstan
dan perpetual, dan semua laba dibagikan dalam bentuk dividen).
g. Semua perusahaan dapat dikelompokkan dalam satu kelompok kembalian, dan
kembalian saham dari semua perusahaan dalam kelompok tersebut adalah
proporsional.


4


Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, maka nilai perusahaan yang tidak
menggunakan hutang (unlevered firm) sama persis dengan perusahaan yang
menggunakan hutang (levered firm). Apabila nilai perusahaan yang tidak
menggunakan hutang diberi notasi VU dan nilai perusahaan yang menggunakan
hutang diberi notasi VL, maka VU = VL.






Sumber: Siaw, 1999
Keterangan:
EBIT = Laba sebelum bunga dan pajak

rS,U
SU
rD
DL
rS,L
SL

= Kembalian (return) saham unlevered firm
= Nilai saham unlevered firm
= Suku bunga hutang
= Nilai hutang levered firm
= Kembalian (return) saham levered firm
= Nilai saham levered firm



Semua laba dibagikan dalam bentuk dividen dan laba diperkirakan konstan untuk
jangka waktu yang tidak terbatas. Jadi, saham biasa dianggap sama seperti saham
preferen. Nilai intrinsic saham preferen (VP)dapat ditentukan dengan cara:




Sumber: Siaw, 1999
Keterangan:

SP
D
r

= Nilai saham preferen
= Dividen
= Kembalian (return)



Model tersebut dikenal sebagai model MM Proposisi 1 tanpa pajak. Proposisi
tersebut mengakui bahwa nilai perusahaan tidak dipengaruhi oleh strategi
pendanaan. Dengan kata lain, nilai perusahaan bergantung pada bagaimana bisnis itu
dijalankan dan tidak pada bagaimana uang itu diperoleh.


5


Ketika nilai unlevered firm sama persis dengan levered firm, menurut model
MM (tanpa pajak), biaya modal rata-rata tertimbang (WACC = weighted average
cost of capital) kedua perusahaan juga identik. Hal ini mengarahkan pada Proposisi
2 dari model MM tanpa pajak:




Sumber: Siaw, 1999


Apa yang disampaikan oleh Proposisi 2 dari model MM tanpa pajak? Untuk
mengetahui apa yang disampaikan, perlu dilihat dahulu apa pengaruh perubahan
keputusan pendanaan terhadap perilaku pemegang saham. Penambahan penggunaan
hutang biasanya diikuti dengan bertambahnya beban keuangan berupa biaya bunga.
Sesuai dengan Proposisi 1, perubahan keputusan pendanaan (struktur modal) tidak
akan mempengaruhi nilai perusahaan. Dengan kata lain, pemegang saham
dihadapkan pada peningkatan risiko keuangan tanpa kompensasi dari meningkatnya
nilai perusahaan. Jadi, pemegang saham akan menuntut kembalian (= return) yang
lebih tinggi sebagai kompensasi dari meningkatnya risiko, dan hal ini disebut biaya
penggunaan saham biasa yang lebih tinggi bagi levered firm. Pernyataan tersebut
dapat dijabarkan dalam bentuk persamaan berikut:





Sumber: Siaw, 1999


Pada umumnya biaya hutang lebih murah daripada biaya saham biasa,
sehingga perusahaan memperoleh "penghematan" ketika perusahaan mengalihkan
pendanaan ekuitas ke pendanaan hutang. Mengacu pada Proposisi 1 bahwa WACC
unlevered firm dan levered firm adalah identik, maka "penghematan" dari
penggunaan hutang tercermin pada peningkatan biaya saham biasa (tersaji pada
Gambar 3).














Sumber: Brigham, and Ehrhardt, 2005:590
















Gambar 3:

6

BIAYA MODAL dan NILAI PERUSAHAAN MENURUT MODEL MM-1 (1958)


Dari model MM-1 (model MM tanpa pajak) yang dikemukakan oleh Franco
Modigliani dan Merton Miller, dapat dipetik dua hal utama yaitu:
1. Dalam situasi tanpa pajak, nilai perusahaan tidak dipengaruhi oleh struktur
modal. Jadi, nilai perusahaan tidak dipengaruhi oleh jumlah hutang, sehingga
WACC juga tidak dipengaruhi oleh struktur modal.
2. Kecenderungan perusahaan yang makin banyak menggunakan hutang akan lebih
berisiko, sebab harus membayar biaya bunga yang lebih banyak pula.
Perusahaan tidak dapat mengabaikan pembayaran biaya bunga, sehingga
pemegang saham "menuntut" kembalian yang lebih tinggi yang tercermin pada
biaya ekuitas yang lebih tinggi. Dalam kondisi demikian, perusahaan
memperoleh "penghematan" yang makin banyak dengan menggunakan hutang
yang lebih banyak karena lebih murah daripada ekuitas. Meskipun demikian,
biaya ekuitas akan meningkat selaras dengan penambahan hutang.
"Penghematan" yang dihasilkan dari penggunaan hutang otomatis akan
meningkatkan biaya ekuitas, sehingga WACC tidak berubah.

Para akademisi dan praktisi mengembangkan sejumlah teori, dan teori-teori
tersebut bersifat subyektif sesuai dengan kondisi empirik saat dilakukannya
pengujian. Secara umum, teori-teori struktur modal dikelompokkan menjadi dua
kategori, yakni: teori-teori trade-off, dan teori-teori yang didasarkan pada perilaku
manajemen. Berikut ini akan dikemukakan beberapa teori struktur modal yang


7


diawali dengan pengembangan model MM-1 yang dilakukan oleh Modigliani dan
Miller pada tahun 1963.

1. Teori-teori Trade-off

1.1. Modigliani-Miller Model 2 (MM Model with corporate taxes)

Pada tahun 1963, Modigliani dan Miller mempublikasikan sebuah artikel
dalam American Economic Review 53 (1963, June) yang berjudul Corporate Income
Taxes an the Cost of Capital: A Correction, untuk memperbaiki model awal mereka
dengan memperhitungkan adanya pajak perseroan (akan tetapi tetap mengabaikan
pajak perorangan). Untuk selanjutnya model tersebut dikenal dengan sebutan model
MM-2 atau model MM dengan pajak perseroan (Brigham, and Ehrhardt, 2005:588-
592). Kehadiran pajak perseroan (diberi notasi tc)mempengaruhi kedua proposisi
awal pada model MM-1 sebagai berikut:

Proposisi 1:




Sumber: Siaw, 1999

Sebagai alasan bahwa nilai unlevered firm (VU) berubah adalah kebutuhan
perusahaan untuk membayar pajak perseroan atas laba yang diperoleh sebelum
membayarkan dividen kepada pemegang saham.

Proposisi 2:



Sumber: Siaw, 1999

Proposisi 1 dan 2 dari model MM dengan pajak perseroan dapat disajikan
dalam bentuk grafik berikut ini (tersaji pada Gambar 4):














Sumber: Brigham, and Ehrhardt, 2005:590
















Gambar 4:

8

BIAYA MODAL dan NILAI PERUSAHAAN MENURUT MODEL MM-2 (1963)


Dari model MM-2, dapat dipetik dua hal utama yang berbeda dengan model
MM-1 sebelumnya adalah:
1. Dalam Proposisi 1, struktur modal tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Dalam
kenyataan, struktur modal mempunyai pengaruh positif terhadap nilai
perusahaan: bertambahnya penggunaan hutang akan meningkatkan nilai
perusahaan. Dengan kata lain, pajak memberi manfaat dalam pendanaan yang
berasal dari hutang, sebesar:



Manfaat pajak dari penggunaan hutang diperoleh dari beban biaya bunga hutang
yang dapat diperhitungkan sebagai elemen biaya yang mengurangi besaran laba
kena pajak, sedangkan pembayaran dividen tidak dapat diperhitungkan sebagai
elemen biaya. Jadi, perusahaan (seperti) menerima subsidi dari pemerintah atas
penggunaan hutang untuk menambah modal.
2. Dengan adanya pajak perseroan, diperoleh dua manfaat penggunaan hutang
yakni: hutang merupakan sumber modal yang lebih murah daripada ekuitas, dan
biaya bunga menjadi elemen pengurang pajak. Dari model MM-1, diketahui
bahwa penghematan dari penggunaan hutang yang lebih murah sepenuhnya
digantikan oleh peningkatan biaya penggunaan ekuitas. Meskipun demikian,
dalam situasi dengan adanya pajak perseroan, keuntungan yang diperoleh


9


perusahaan dari penggunaan hutang lebih besar daripada peningkatan biaya
ekuitas. Dengan demikian, biaya ekuitas dari levered firm dalam situasi ada
pajak perseroan pertambahannya lebih lamban daripada bila situasinya tanpa
pajak perseroan. Dengan kata lain, pemegang saham memperoleh kompensasi
untuk risiko keuangan yang lebih kecil dalam situasi ada pajak perseroan.
"Penghematan" dari penggunaan hutang yang lebih besar daripada peningkatan
biaya ekuitas, menghasilkan WACC yang makin kecil seturut dengan
bertambahnya hutang.

1.2. Miller Model with Personal Taxes

Model MM-2 yang dipublikasikan tahun 1963 memperlihatkan situasi
perpajakan yang dihadapi perusahaan dengan lebih baik, akan tetapi belum
memperlihatkan situasi perpajakan yang dihadapi oleh para investor. Pada tahun
1977, dalam Journal of Finance volume 32 nomor 2 tahun 1977 dengan judul Debt
and Taxes, Miller mengemukakan sebuah model yang memperhitungkan pajak
perorangan (Ogden, Jen, and O'Connor, 2003:172). Dalam model tersebut, investor
dihadapkan pada dua kemungkinan jenis pajak: pajak perorangan atas ekuitas atau
pendapatan dividen (tS), dan pajak perorangan atas hutang atau pendapatan bunga
(tD).
Bagaimana pengaruh pajak perorangan terhadap nilai unlevered firm maupun
levered firm yang memperhitungkan pajak perseroan? Dalam model MM-2, dividen
yang diperoleh pemegang saham sebesar:



Akan tetapi, dengan adanya pajak perorangan, dividen yang diperoleh pemegang
saham menjadi:



Dengan demikian, terjadi pajak ganda atas pendapatan ekuitas (dividen) yang
diterima oleh investor. Laba perusahaan dikenai pajak perseroan sebelum dibagikan
menjadi dividen kepada investor, dan selanjutnya ketika investor memperoleh
dividen, dikenai pajak perorangan. Jadi, nilai unlevered firm yang memperhitungkan
pajak perseroan dan pajak perorangan adalah:







Sumber: Brigham, and Ehrhardt, 2005:592

10



Untuk levered firm, sebelum mengetahui berapa nilainya, perlu diketahui
dahulu arus kas yang ada. Ada dua kategori arus kas, yaitu:
a. Arus kas untuk pemegang saham:
b. Arus kas untuk kreditur:
Jadi, arus kas total dari levered firm dapat dihitung dengan cara berikut:








Sumber: Siaw, 1999

Penentuan nilai levered firm dilakukan dengan cara mendiskontokan arus kas
seperti pada unlevered firm dengan biaya ekuitas unlevered firm, ditambah
pendiskontoan arus kas yang terkait dengan pendapatan bunga (bagi kreditur)
dengan biaya hutang setelah pajak, menjadi persamaan berikut:







Sumber: Siaw, 1999, dan Brigham, and Ehrhardt, 2005:593



1.3. Kritik terhadap Model Modigliani-Miller (MM) dan Miller

Kritik terhadap model MM dan Miller berkaitan dengan relevansi dari asumsi-
asumsi yang digunakan dalam model. Beberapa kritik terhadap model-model
tersebut dapat diungkapkan sebagai berikut (Siaw, 1999, dan Brigham, and





Ehrhardt, 2005:595-597):

11

1. Proposisi model didasarkan pada konsep arbitrase dengan asumsi bahwa beban
keuangan perusahaan kondisinya sama persis dengan beban keuangan yang
dialami oleh investor secara individu. Asumsi ini benar, bila arbitrase personal
tanpa risiko, karena investor bertanggungjawab atas investasi awal dan
peminjaman dana (hutang) yang ditentukan untuk dirinya sendiri.
2. Asumsi bahwa tidak ada biaya transaksi adalah tidak benar dalam berbagai
situasi, khususnya untuk investor dalam menentukan struktur modal individual
secara bersama-sama.
3. Asumsi bahwa perorangan maupun perusahaan dapat meminjam uang dengan
tingkat suku bunga yang sama adalah tidak benar, karena seringkali suku bunga
bagi perusahaan lebih rendah daripada perorangan.
4. Model tersebut tidak memperhitungkan adanya perbedaan struktur pajak yang
(mungkin) dihadapi oleh perusahaan berkaitan dengan hasil penjualan dan
perolehan laba. Dengan kata lain, pajak perseroan yang ditanggung perusahaan
dapat berubah seturut dengan perubahan laba yang diperoleh, dan tentunya akan
berpengaruh terhadap manfaat pajak yang diperoleh.
5. Dalam model MM dan Miller, manfaat pajak (dari pengurangan pajak perseroan
atas biaya bunga) meningkat seturut dengan peningkatan jumlah hutang. Hal ini
didasarkan pada asumsi bahwa biaya hutang tidak berubah dan perusahaan dapat
menggunakan pembayaran biaya bunga untuk mengurangi pajak dengan
persentase yang sama. Keadaan semacam itu tidak benar, sebab:
a. Perusahaan tidak dapat 100% didanai dengan hutang. Kreditur biasanya
menginginkan perusahaan menanamkan sejumlah uang terlebih dahulu.
Sebagai contoh adalah kredit mobil; pihak penjual pada umumnya meminta
sejumlah uang muka.
b. Direktorat Pajak memandang bahwa hutang 100% merupakan cara
perusahaan untuk memperoleh pengurangan pajak. Dalam hal ini, Direktorat
Pajak menentukan batas maksimum hutang yang dianggap layak bagi suatu
perusahaan, sehingga jumlah hutang yang melampaui batas tersebut akan
diperhitungkan sebagai ekuitas.
Berdasarkan dua pertimbangan tersebut, dalam kenyataan, WACC perusahaan


12


akan meningkat dan nilai perusahaan akan menurun setelah mencapai titik
tertentu, seperti terlihat pada Gambar 5 berikut ini.











Sumber: Siaw, 1999

Gambar 5: BIAYA MODEL dan NILAI PERUSAHAAN (dalam kenyataan)


Dari Gambar 5 tersebut, terlihat ada kombinasi hutang dan ekuitas tertentu yang
menghasilkan biaya modal minimum dan nilai perusahaan maksimum. Salah
satu perhatian utama dari manajer keuangan adalah menentukan struktur modal
optimal yang akan meminimumkan biaya modal dan memaksimumkan nilai
perusahaan.


1.4. Biaya Beban Keuangan dan Biaya Keagenan

Setelah model MM dan Miller, muncul model-model lain yang
memperhitungkan biaya-biaya yang ditanggung perusahaan dan dapat
mempengaruhi struktur modalnya. Ada dua jenis biaya yang ditanggung perusahaan
atas penggunaan hutang, yaitu biaya beban keuangan dan biaya keagenan (Siaw,
1999, dan Megginson,1997:323-338).

1. Biaya Beban Keuangan

Perusahaan memang dapat menikmati bertambahnya penghematan pajak yang
diperoleh dari bertambahnya hutang, akan tetapi pendanaan yang berasal dari
hutang juga dapat meningkatkan kemungkinan perusahaan mengalami
kebangkrutan karena bertambahnya beban bunga. Perusahaan bisa
menangguhkan (mengabaikan) pembayaran dividen, tetapi pembayaran bunga

13


tetap harus dipenuhi tepat waktu dan jumlahnya. Kegagalan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban pembayaran bunga disebabkan oleh kas yang dimiliki
tidak cukup dan dapat mengakibatkan perusahaan menanggung beban keuangan,
dan wujud beban keuangan yang paling berat adalah kebangkrutan.
Biaya beban keuangan dapat dikelompokkan menjadi dua: biaya beban keuangan
langsung dan biaya beban keuangan tidak langsung.
a. Biaya beban keuangan langsung
Biaya beban keuangan langsung yang ditanggung perusahaan adalah
biaya pengesahan secara hukum (legal) dan biaya administrasi yang
berkaitan dengan kebangkrutan atau reorganisasi.
b. Biaya beban keuangan tidak langsung
Biaya ini biasanya bersifat implisit yang ditanggung oleh perusahaan
dalam situasi yang sangat berat (tetapi tidak bangkrut), antara lain: biaya
modal lebih tinggi, penurunan penjualan dan hilangnya kepercayaan
pelanggan, manajer dan pekerja melakukan tindakan-tindakan drastis
(mengurangi kapasitas, menekan biaya secara drastis, atau menjual
aktiva) yang dapat menyusutkan nilai perusahaan, dan perusahaan tidak
dapat mempertahankan keberadaan manajer-manajer dan para pekerjanya
yang berkualitas.

2. Biaya Keagenan

Teori yang memperhitungkan biaya keagenan pertama kali dikemukakan oleh
Michael C. Jensen dan William H. Meckling pada tahun 1976 yang
dipublikasikan dalam Journal of Financial Economics volume 3 nomor 4 pada
bulan Oktober 1976 dengan judul Theory of the Firm: Managerial Behaviour,
Agency Costs and Ownership Structure. Teori tersebut menegaskan bahwa
struktur keuangan dipengaruhi oleh insentif dan perilaku dari pembuat keputusan
(pihak manajemen). Jensen dan Meckling mengemukakan adanya dua potensi
konflik, yaitu konflik antara pemegang saham dengan kreditur, dan konflik
antara pemegang saham dengan pihak manajemen.
a. Konflik antara Pemegang Saham dengan Kreditur
Kreditur menerima uang dalam jumlah tetap dari perusahaan (bunga
hutang), sedangkan pendapatan pemegang saham bergantung pada

14


besaran laba perusahaan. Dalam situasi ini, kreditur lebih memperhatikan
kemampuan perusahaan untuk membayar kembali hutangnya, dan
pemegang saham lebih memperhatikan kemampuan perusahaan dalam
meraih laba yang banyak. Cara perusahaan untuk memperoleh kembalian
yang besar adalah melakukan investasi pada proyek-proyek yang
berisiko. Apabila pelaksanaan proyek yang berisiko itu berhasil, kreditur
tidak dapat menikmati keberhasilan tersebut, tetapi bila proyek
mengalami kegagalan, kreditur mungkin akan menderita kerugian akibat
dari ketidak-mampuan pemegang saham memenuhi kewajibannya.
Untuk mengantisipasi kemungkinan rugi, kreditur mengenakan biaya keagenan
hutang (debt agency cost), dalam bentuk pembatasan penggunaan hutang oleh
manajer. Salah satu pembatasan adalah membatasi jumlah penggunaan hutang
untuk investasi dalam proyek baru (seperti capital rationing).
b. Konflik antara Pemegang Saham dengan Pihak Manajemen
Pihak manajemen tidak selalu bertindak yang terbaik untuk kepentingan
pemegang saham, tetapi agak mengarah kepada kepentingan dirinya
sendiri. Akibatnya, pemegang saham menanggung biaya keagenan
ekuitas (equity agency cost) untuk memantau kegiatan pihak manajemen.
Salah satu biaya keagenan adalah kompensasi bagi akuntan publik untuk
mengaudit perusahaan.

Kedua macam biaya keagenan mempunyai sifat yang berlawanan. Tindakan
pihak manajemen mengarah pada pemenuhan kepentingan dirinya sendiri, bila
kepemilikannya atas perusahaan mengecil. Untuk mengatasi hal itu, kepemilikan
manajerial dapat ditingkatkan dengan cara mengubah sebagian ekuitas
perusahaan yang dimiliki oleh pemegang saham menjadi hutang. Tindakan
tersebut tentunya akan meningkatkan risiko kreditur karena perusahaan harus
menanggung beban biaya bunga yang lebih banyak, yang berarti, biaya keagenan
hutang meningkat. Gambar 6 berikut memperlihatkan bahwa pada bauran hutang
dan ekuitas tertentu akan meminimumkan total biaya keagenan.
















Sumber: Siaw, 1999

Gambar 6: BIAYA KEAGENAN

15


Ketika perusahaan menggunakan hutang dalam memenuhi kebutuhan
modalnya, dia menikmati manfaat pajak berupa penghematan pajak, tetapi juga
harus menanggung biaya beban keuangan dan biaya keagenan. Oleh sebab itu, nilai
levered firm dapat ditentukan sebagai berikut:

Nilai Perusahaan dengan Hutang = Nilai Perusahaan tanpa Hutang + Penghematan Pajak
– Biaya Beban Keuangan – Biaya Keagenan

Nilai perusahaan maksimum ketika struktur modal optimal tercapai karena pada saat
itu biaya modalnya paling rendah. Keadaan tersebut tercermin pada Gambar 7
berikut ini.










Sumber: Siaw, 1999

Gambar 7: STRUKTUR MODAL OPTIMAL


16


Gambar tersebut memperlihatkan nilai perusahaan pada berbagai level hutang.
Ketika perusahaan menerbitkan hutang, akan menikmati penghematan pajak., dan
nilai perusahaan meningkat seturut dengan peningkatan hutang karena penghematan
pajak bertambah. Meskipun demikian, peningkatan hutang yang dilakukan
perusahaan akan meningkatkan biaya beban keuangan dan biaya keagenan, yang
selanjutnya akan mengurangi nilai perusahaan secara keseluruhan. Bila manfaat
pajak, biaya beban keuangan dan biaya keagenan diperhitungkan secara bersama-
sama, manajer keuangan akan mendapatkan nilai levered firm (VL). Puncak garis VL
menunjukkan nilai levered firm maksimum, yang berarti WACC juga paling rendah.


2. Teori-teori Berdasarkan Perilaku Manajemen

Akhir-akhir ini banyak dilakukan pengembangan teori struktur modal yang
didasarkan pada model perilaku manajemen (Laurent, 2000). Meskipun demikian,
sampai saat ini masih banyak penelitian-penelitian yang mendasarkan pada ide dari
teori-teori trade-off yang memperhitungkan peningkatan komponen biaya terkait
dengan banyaknya hutang, untuk dihadapkan dengan penghematan pajak atas bunga
hutang. Teori-teori struktur modal yang didasarkan pada model perilaku manajemen,
antara lain: signaling effects theory, dan pecking order theory.

2.1. Signaling Effects

Teori ini didasarkan pada premis bahwa manajer dan pemegang saham tidak
mempunyai akses informasi perusahaan yang sama. Ada informasi tertentu yang
hanya diketahui oleh manajer, sedangkan pemegang saham tidak tahu informasi
tersebut. Jadi, ada informasi yang tidak simetri (asymmetric information) antara
manajer dan pemegang saham. Akibatnya, ketika struktur modal perusahaan
mengalami perubahan, hal itu dapat membawa informasi kepada pemegang saham
yang akan mengakibatkan nilai perusahaan berubah. Dengan kata lain, terjadi
pertanda atau sinyal (signaling).
Stephen A. Ross pada tahun 1977 dalam Bell Journal of Economics volume 8
dengan judul The Determinants of Financial Structure: the Incentive Signaling
Approach, menyatakan bahwa ketika perusahaan menerbitkan hutang baru, menjadi
tanda atau sinyal bagi pemegang saham dan investor potensial tentang prospek

17


perusahaan di masa mendatang mengalami peningkatan (Megginson, 1997, 342).
Dasar pertimbangannya adalah: penambahan hutang berarti keterbatasan arus kas
dan biaya-biaya beban keuangan juga meningkat, dan manajer hanya akan
menerbitkan hutang baru yang lebih banyak bila mereka yakin perusahaan kelak
dapat memenuhi kewajibannya. Penelitian lain memperlihatkan bahwa penerbitan
saham baru akan menjurus pada tanggapan harga saham negatif, dan pembelian
kembali saham yang beredar akan menjurus pada tanggapan harga saham positif
(Siaw, 1999). Dasar pertimbangannya adalah: pemegang saham dan investor
potensial menganggap penerbitan saham baru merupakan cara manajer untuk
mengurangi kepemilikannya atas perusahaan yang peruntungannya jelek (bad
fortune), sedangkan pembelian kembali saham yang beredar dianggap sebagai cara
manajer untuk menikmati kepemilikannya yang besar atas perusahaan yang
peruntungannya bagus (good fortune).

2.2. Pecking Order Theory

Pada tahun 1984, Stewart C. Myers dalam Journal of Finance volume 39
dengan judul The Capital Structure Puzzle, menyatakan bahwa ada semacam tata
urutan (pecking order) bagi perusahaan dalam menggunakan modal (Ogden, Jen,
and O'Connor, 2003, 116). Teorinya menjelaskan bahwa perusahaan lebih
mengutamakan pendanaan ekuitas internal (menggunakan laba yang ditahan)
daripada pendanaan ekuitas eksternal (menerbitkan saham baru). Hal itu disebabkan
penggunaan laba yang ditahan lebih murah dan tidak perlu mengungkapkan
sejumlah informasi perusahaan (yang harus diungkapkan dalam prospektus saat
menerbitkan obligasi dan saham baru). Apabila perusahaan membutuhkan
pendanaan eksternal, pertama kali akan menerbitkan hutang sebelum menerbitkan
saham baru. Penerbitan saham baru menduduki urutan terakhir sebab penerbitan
saham baru merupakan tanda atau sinyal bagi pemegang saham dan calon investor
tentang kondisi perusahaan saat sekarang dan prospek mendatang yang tidak baik.


PENELITIAN-PENELITIAN TERDAHULU

Pada tahun 1998, Hayne E. Leland menemukan bahwa struktur modal optimal
mencerminkan penghematan pajak atas biaya bunga hutang dan biaya-biaya

18


keagenan. Biaya-biaya keagenan membatasi jumlah hutang dan jatuh tempo hutang,
dan meningkatkan hasil (yield), tetapi peranannya relatif kecil.
Pada tahun 1999, Lakshmi Shyam-Sunder dan Stewart C. Myers
mengemukakan bahwa model dasar pecking order yang memprediksi defisit
keuangan internal mendorong hutang, mampu menjelaskan dengan lebih baik
daripada model static trade-off yang memprediksi bahwa tiap perusahaan melakukan
penyesuaian secara bertahap untuk mencapai debt ratio optimal.
Sheridan Titman pada tahun 2002 mengemukakan tentang pasar modal yang
seringkali tidak terintegrasi, dan pengaruhnya terhadap strategi pendanaan. Kondisi
pasar modal yang ditentukan oleh institusi dan individu yang memasok modal, dapat
mempengaruhi perusahaan dalam mencari modal.
Ivo Welch pada tahun 2002 mengemukakan bahwa karena perusahaan-
perusahaan pada umumnya bersikap pasif, struktur modal perusahaan-perusahaan di
Amerika Serikat saat sekarang dapat dijelaskan dengan struktur modal periode
sebelumnya sebagai perantara untuk menentukan harga saham. Pembuatan
keputusan internal perusahaan dalam menentukan target debt ratio, seperti
meminimumkan pajak perseroan atau biaya kebangkrutan, secara empirik
mempunyai konsekuensi yang kecil.
Pada tahun 2003, Murray Z. Frank dan Vidhan K. Goyal menemukan adanya
39 faktor penting dalam pembuatan keputusan penggunaan hutang untuk
perusahaan-perusahaan publik di Amerika Serikat. Temuan tersebut konsisten
dengan pajak dan biaya kebangkrutan dalam teori trade-off. Faktor-faktor yang
paling reliabel adalah: median dari hutang (leverage) industri, risiko kebangkrutan
yang diukur dengan Z-Score dari Edward I. Altman, besaran perusahaan yang diukur
dengan log penjualan, pembayaran dividen, aktiva tidak berujud, market to book
ratio, dan agunan.


DAFTAR PUSTAKA

Altman, Edward I., 1993, Corporate Financial Distress and Bankruptcy: A
Complete Guide to Predicting & Avoiding Distress and Profiting from
Bankruptcy, Second Edition, New York: John Wiley & Sons, Inc.
Brigham, Eugene F., and Louis C. Gapenski, 1997, Financial Management: Theory
and Practice, Eighth Edition, Orlando, Florida: The Dryden Press.

19


Brigham, Eugene F., and Michael C. Ehrhardt, 2005, Financial Management:
Theory and Practice, Eleventh Edition, South-Western, Australia: Thomson
Learning.
Frank, Murray Z., and Vidhan K. Goyal, 2003, Capital Structure Decisions, Working
paper, Faculty of Commerce, University of British Columbia, and Department
of Finance, Hong Kong University of Science and Technology, 1 – 55.
Gitman, Lawrence J., 1994, Principles of Managerial Finance, Seventh Edition,
New York: Harper Collins College Publishers.
Groth, John C., and Ronald C. Anderson, 1997, Capital Structure: Perspective for
Managers, Management Decision, 35/7, 552 – 561.
Jensen, Michael C., dan William H. Meckling, 1976, Theory of the Firm:
Managerial Behavior, Agency Costs and Ownership Structure, Journal of
Financial Economics, 3/4, 305 – 360.
Laurent, Sandra, 2000, Capital Structure Decision: The Use of Preference Shares
and Convertible Debt in the UK, Working paper, Bristol Business School,
University of the West of England, 1 – 39.
Leland, Hayne E., 1998, Agency Costs, Risk Management, and Capital Structure,
Working paper, Haas School of Business, University of California, Berkeley, 1
– 48.
Megginson, William L., 1997, Corporate Finance Theory, Massachusetts: Addison-
Wesley.
Miller, Merton H., 1977, Debt and Taxes, the Journal of Finance, 32/2, 261 – 275.
Modigliani, Franco, and Miller, Merton H., 1958, The Cost of Capital, Corporate
Finance, and the Theory of Investment, the American Economic Review, 48/3,
261 – 297.
Modigliani, Franco, and Miller, Merton H., 1963, The Cost of Capital, Corporate
Income Taxes and the Cost of Capital: A Correction, the American Economic
Review, 53/3, 433 – 443.
Myers, Stewart C., 1977, Determinants of Corporate Borrowing, Journal of
Financial Economics, 5/2, 147 – 175.
Myers, Stewart C., 1984, the Capital Structure Puzzle, the Journal of Finance, 39/3,
575 – 592.
Ogden, Joseph P., Frank C. Jen, Philip F. O'Connor, 2003, Advance Corporate
Finance, Policies and Strategies, Upper Saddle River, New Jersey: Prentice
Hall.
Ross, Stephen A, 1977, the Determination of Financial Structure: the Incentive-
Signaling Approach, the Bell Journal of Economics, 8/1, 23 – 40.
Seitz, Neil, 1984, Financial Analysis: A Programmed Approach, Third Edition,
Englewood Cliffs, New Jersey: A Reston Book Prentice-Hall, Inc.

20


Shyam-Sunder, Lakshmi, and Stewart C. Myers, 1999, Testing Static Tradeoff
Against Pecking Order Models of Capital Structure, Journal of Financial
Economics, 51/2, 219 – 244.
Siaw Peng Wan, 1999, Corporate Finance: Capital Structure Decision, Working
paper, University of Illinois at Urbana-Champaign, 1 – 28.
Titman, Sheridan, 2002, The Modigliani and Miller Theorem and the Integration of
financial Markets, Financial Management, 31/1, 101 – 115.
Welch, Ivo, 2002, Columbus' Egg: Stock Returns are the Main Determinant of
Capital Structure Dynamics, Working paper, Yale University, 1 – 50.